Sabtu, 27 Maret 2010

d'jambLE bagian 4 0

Abdul dan Adi bertengkar. Dan ini yang pertama kalinya, sang ‘kembar siam’ bertengkar dan berpencar. Sangatlah aneh menurutku.
Aku gak nyaman dengan keadaan seperti ini. Ini bukan d’JambLE yang seperti dulu. Abdul tak pernah lagi kumpul. Dan ku yakin, ini bukan hanya karena ada masalah dengan Adi saja.
“Ngerasa gak sih, kalau Abdul gak pernah gabung lagi?” tanyaku.
“Ya. Dia benar-benar menghilang dari peredaran.” Dimas menjawab pertanyaanku,
“Alah. Dianya aja yang pongo!” seru Liq.
Aku melotot ke arah Liq. Sumpah. Aku tidak suka kata-katanya itu. “Liq. Kata-kata kamu gak pantes.” ucapku sinis,
“Iya Liq. Apa lagi suasana lagi gak enak kayak gini,” timpal Aneu gak kalah sinis.
“Mulut, mulut saya!” protes Liq,
“Tapi gak boleh sekasar itu!” seru Vyie.
“Terserah saya!” protes Liq lagi.
Huh. Aku benar-benar kesal. Ingin sekali aku mencubitnya,
“Heh Liq! Kamu jangan kasar kalau ngomongin sahabat saya! Abdul sahabat saya. Gak boleh ada yang kasar!” bentak Adi, “Kalau saya gak ingat kamu juga sahabat saya, saya sudah gak mau kenal kamu lagi!” lanjut Adi.
“Ya udah. Kita gak usah kenal lagi!” sahut Liq. Tanpa sepatah kata pun lagi Liq pergi meninggalkan kami.
“Lho, lho! Koq jadi kayak gini sih?!” kata Jainus heran. “Di. Kok kamu ngomong gitu sih?! Jadi tambah ribet lagi nih!” tambah Jainus.
“Jangan salahkan saya,” jawab Adi singkat, lalu pergi entah kemana.
“Semua jadi tambah rumit…” keluh Dimas pelan.
“Emang,awal mulanya siapa yang salah?” tanya Vyie bingung,
“Adi… awalnya hanya bercanda, tapi kayaknya Abdul lagi punya masalah. Gak bisa di bercandain dulu. Jadi gini deh.” jawab Kis.
“Kita harus menyatukan sang ‘kembar siam’ d’JambLE lagi!” seru Dimas.



Misi menyatukan ‘kembar siam’ mulai terencana. Aku menyarankan agar aku, Aneu, Vyie, dan Eka yang merayu Abdul, sedangkan sisanya merayu Adi.
“Dul. Aku sahabat kamu khan? Cerita donk kalau kamu ada masalah…” ucapku mulai merayu,
“Iya Dul. Aku gak mau, kamu selalu mendengar keluhanku, tapi kamu gak terbuka sama aku.” Aneu menambahkan.
“Aduh. Maaf ya, Abdul gak bisa cerita,” kata Abdul dengan senyum di buat-buat.
“Jangan pakai topeng di depan aku, Dul! Aku gak suka!” seruku dengan nada yang mulai meninggi.
“Abdul gak pake topeng Dhit!” omel Abdul.
“Kamu pakai topeng! Kamu gak usah senyum kalau gak mau senyum Dul!” protesku. Aku tahu Abdul itu bagaimana, jadi aku gak suka kalau Abdul bukan jadi diri sendiri.
“Oke Dhit! Abdul gak akan senyum lagi ke kamu!” protes balik Abdul.
“Jangan kayak gitu juga donk Dul! Aku mau kamu be your self saja. Terus, kamu tuh terbuka sama sahabat-sahabat kamu.” ucapku pelan,
“Abdul ngerti kok Dhit, maksud naik kamu. Tapi serius Dhit. Ini privacy Abdul,” jelas Abdul.
“Tapi sampai kapan Dul?” tanya Vyie,
“Sampai Abdul ngerasa, udah saatnya.” jawab Abdul singkat dan jelas.



Aku mengajak d’JambLE kembali berkumpul di depan XI IPA5. Untuk membahas ‘kembar siam’ lagi.
“Kis, Jainus, dan Dimas. Gimana masalah Adi? Sudah ada titik terang belum?” tanya Eka mengawali pertemuan kali ini.
“Boro-boro titik terang. Yang ada kita di bentak terus sama Adi!” jawab Jainus yang terlihat kesal.
“Terus?” tanya Aneu juga,
“Terus Adi pergi. Kita gak mau ngikuti lagi, takut di bentak lagi!” jawab Kis,
“Dan juga, takut kalau Adi udah marah. Kayaknya lebih seram dia lagi marah, daripada melihat setan. Hi...” tambah Dimas,
“Aduh! Sampai lupa! Gimana sama Liq?” tanya Aneu lagi. Dan pertanyaan itu juga menyadarkanku, bahwa kita melupakan Liq. Tapi, ya sudah. Sepertinya bukan masalah besar menurutku.
“Kalau Liq, kita urus setelah masalah ‘kembar siam’ saja deh.” jawabku santai.



Di rumahku

Kalau sore memang paling pas untuk membaca buku. Sore ini sudah ku siapkan dua komik, satu novel dan satu buku pelajaran. Ketika aku akan membaca komik, aku teringat akan Abdul. Aku berinisiatif menelefon Abdul.
“Halo, assalamualaikum,” ucapku saat mendengar telefonku di angkat oleh Abdul,
“Wallaikumsalam… ada apa Dhit?” tanya Abdul.
“Dul. Sebagai sahabatmu, bolehkah aku tahu keadaanmu?” tanya balik aku basa-basi.
“Ya. Boleh. Abdul baik-baik saja.” jawab Abdul.
“Kalau dengan perasaanmu? Apakah sebaik keadaanmu?” tanyaku kembali.
“Kurang tahu Dhit.” jawabnya singkat,
“Dul. Cerita donk! Aku gak suka kalau kamu kayak gini!” seru aku,
“Abdul gak yakin Dhit. Masalahnya kamu khan kayak ‘ember bocor’.” ucap Abdul,
“Wadduh! Maksudnya apa nih, Dul?! Kamu gak percaya sama Adhita, gitu?”
“Gak, Dhit. Abdul percaya kok!” ujar Abdul, “Abdul lagi ada masalah sama bandnya Abdul. Abdul jadi emosian. Adi jadi kena getahnya. Abdul takut, Adi benci sama Abdul. Jadi Abdul mau ngejauh dulu dari Adi,” Abdul mulai bercerita.
“Dasar bodoh! Kalau kamu menjauh, semua mengira kamu yang marah! Gimana sih?!” omel aku,
“Yah, Dhit. Abdul tahu Adi kayak gimana. Adi pasti marah sama Abdul,” sergah Abdul.
Huh. Kalau saja Abdul ada di depanku, sudah ku cubit kali. Kesal sekali! Kalau aku jadi Abdul, aku gak akan seperti Abdul sekarang, paranoid sendiri.
“Dul! Tahu gak? Adi sama Liq lagi diem-dieman lho! Itu semua karena Liq ngejek kamu tadi. Berarti, Adi marah gak coba sama kamu?” tanyaku pelan,
“Gak tahu ah Dhit! Abdulnya gak tahu mau mualai dari mana kalau baikan sama Adi.” jawab Abdul dengan nada pasrah,
“Gampang saja Dul. Kamu ikut ngumpul lagi kayak biasa dan ajak ngobrol seperti biasa!” usulku,
“Abdul gak mau ngumpul Dhit,” ucap Abdul tiba-tiba, membuatku heran.
“Ada apa lagi?” tanyaku kesal,
“Abdul terkadang merasa minder. Hanya Abdul yang anak IPS. Semuanya anak IPA.” jawab Abdul,
“Dul! Jangan kayak anak kecil lah. Kamu tuh sama di mata kita. Lagian, aku anak IPA gadungan. aku sebenarnya gak cocok masuk IPA. Lebih baik kamu Dul, masuk jurusan yang sesuai dengan keinginan kamu!” tegurku,
“Iya Dhit. Abdul ngerti.” kata Abdul.
“Oke. Ya udah deh, lanjut besok saja ya! Pulsa aku mau habis! Bye Abdulku! Assalamualaikum!”
“Iya. Makasih ya Dhit atas semuanya. Oya, Wallaikumsalam Adhita…”
Segera ku tutup telefonnya. Dan ku ambil komik yang ingin ku baca tadi, dan mulai membacanya.



“Pagi semua!” sapaku pada Adi, Dimas, Aneu, Kis, dan Jainus ketika ku lihat mereka di depan kelasku.
“Pagi Dhit!” sapa balik Adi dan yang lainnya,
“Dhit!” panggil ketua kelas XI IPA5, Budi,
“Ada apa Bud?” tanyaku sambil mendekati Budi,
Tiba-tiba Budi menyerahkan sesuatu padaku, yaitu sapu. “Piket!!!” seru Budi,
“Oia ya! Aku piket hari ini!” ucapku.
“Huh. Kamu tuh tiap piket mesti di ingetin terus! Kapan mandirinya?” protes Budi.
“Tunggu kalau udah kuliah.” jawabku sekenanya,
“Kalau di nasehatin tuh ya, jawab terus!” keluh Budi, “Oia. Tahu gak? Anak XI IPA6, Facebooknya di hack sama temen kamu tuh!” lanjut Budi,
“Temen aku? Siapa?” tanyaku,
“Liq! Nnyebelin ya!” jawab Budi.
Aku melotot kaget, dan menyerahkan kembali sapu ke Budi, dan aku langsung pergi mendekati setengah anak d’JambLE yang barusan sedang kumpul.
“Hei! Ada masalah! Liq cari gara-gara!” seruku,
“Tuh anak mah emang selalu cari gara-gara Dhit! Gak usah heran!” ujar Adi sinis.
“Adi! Gak boleh gitu ah!” omel Aneu.
“Emang masalahnya apa Dhit?” tanya Dimas,
“Dia…” belum sempat melanjutkan kata-kataku, Desi Ayu yang biasa di panggil Ayu lewat, berhenti di antara kita, dan mengatakan,
“Eh! Tolong ya, bilangin sama temen kalian yang kurang ajar itu! Gak usah pake hack facebook gue gitu, bisa gak? Kalau punya masalah sama gue, bilang! Bukan dengan cara licik kayak gitu!” sentak Ayu,
“Kok ngomong ke kita? Kenapa gak ke orangnya langsung?” tanya Jainus dengan polosnya,
“Gak mau! Jijik gue ngomong sama anak kurang ajar kayak gitu!” jawab Ayu, “Ya udah. Pokoknya tolong bilangin ya, gue mau pergi dulu,” lanjut Ayu, lalu pergi.
“Bener-bener ya si Liq. Bikin orang marah terus,” keluh Kis.
“Ya, tahu sendirilah, anak itu kayak gimana,” timpal Dimas.



“Itu khan kesalahan saya! Kenapa kalian marah?” tanya Liq, ketika Aku, Dimas, dan Jainus menegur perbuatannya.
“Saya hanya menegur, ya Liq! Saya gak marah!” seru Dimas,
“Ya sudah, kenapa kalian mesti susah-susah menegur aku? Gak perlu. Karena gak penting,” ujar Liq
“Emang gak penting,” cetusku.
“Ya sudah, ngapain lagi kalian masih di sini?!” sentak Liq.
“Heh! Asal kamu tahu ya! Ayu yang nyuruh kita untuk negur kamu! Karena dia gak mau ngomong sama kamu lagi!” aku naik darah,
“Betul!” kata Jainus sambil menyilangkan tangan dan menganggukan kepalanya,
“Udah?” tnya Liq seperti tanpa dosa,
“Eh! Kamu tuh bener-bener nyebelin ya?! Pantes banyak yang sebel sama kamu!” bentak aku, marah.
“Yang menyebalkan aku ini!” serunya lalu pergi.
Huh. Masalah Abdul dan Adi belum selesai, datang lagi masalah dari Liq yang menyebalkan ini.






To be continue…

d'jambLE bagian 3 0

Aku menampar Vyie. Ku yakin ini sangat keterlaluan dan juga Vyie pasti takkan memaafkan aku. Sangatlah jelas dengan dia langsung pergi dan tak berkata sepatah kata pun setelah aku menamparnya. Tak lama setelah itu Adi, Kismawan, Dimas dan Jainus masuk ke UKS. Mereka mendekati aku yang sedang menangis di pintu dan Aneu yang a menenangkanku.
“Dhit. Ada apa lagi?” tanya Jainus.
“Aku jahat Jai. Aku kejam,” jawabku sambil merintih. Aku benar-benar tak tahu apa yang mesti aku lakukan. Aku tak bisa menahan emosiku, dan berbuat kasar pada sahabatku sendiri.
“Udah Dhit… Aneu ngerti, tadi emosi kamu lagi gak bisa di kontrol saja khan? Kalau Aneu, mungkin sudah bertindak lebih…”ucap Aneu yang ku yakin hanya mencoba menenangkanku,
“Wadduh. Kok jadi kayak gini ya?” keluh Kismawan sambil menggaruk kepalanya,
“Ini semua salah aku…” ujar aku, karena ku yakin masalahnya semakin runyam.



Saat pulang sekolah

Pulang sekolah, d’JambLE minus Vyie berkumpul di depan kelas XI IPA3.
“Kamu kerja kelompok buat fisika hari apa Jai? Kelompok kita belum tugas kelompoknya.” ujar Dimas.
“Hehehe, ya udah deh. Atur aja,” kata Jainus,
“Jih. Anak XI IPA 5 malas-malas ya!” seru Eka,
“Hei! Saya gak malas Ka!” omel Adi.
“Hanya tak mau mengerjakan tugas, khan?” cela Liq, dengan wajah menyebalkan,
“Ya gitu deh…” kata Adi, pasrah.
Semua tertawa dan ikut mencela Adi, kecuali aku. Jujur, aku lagi malas untuk tertawa ataupun bercanda. Aku masih memikirkan Vyie.
“Dhit. Kamu kenapa?” tanya Abdul saat melihat mataku sembab.
“Masalah Vyie lagi Dul. Maaf ya Dul, Aku gak bisa cerita sekarang, lagi gak mau inget-inget dulu.” jawabku tegas.
“Ya, gak apa-apa kok Dhit. Abdul ngerti.” kata Abdul sambil tersenyum lemas, “Oia… Hayo! Yang punya hutang uang pulsa sama Abdul, cepat bayar! Kakak Abdul udah nanyain nih,” omel Abdul.
Kismawan, Aneu, dan Dimas membayar hutang mereka pada Abdul. Sedangkan yang lain tidak ada hutang uang pulsa pada Abdul,
“Nanti ya Dul. Duit saya lagi abis,” ujar Adi,
“Nanti terus, dari dulu. Kamu tuh hutangnya udah banyak, Adi. Kayak gak niat bayar.” sindir Abdul.
“Ya ampun, Dul… saya bakal bayar kok. Tapi nanti. Serius. Saya pasti bayar!” janji Adi,
“Alah… Sudah saya hitung. Janji kamu jauh lebih banyak dari hutang kamu Di!” seru Abdul yang sepertinya marah. Dia langsung berdiri dari duduknya.
“Tapi khan saya udah bilang gak ada Dul! Abdul gak percaya?!” sentak Adi.
“Terserah Adi aja lah. Percuma mengharapkan kamu bayar hutang. Kayak nungguin hujan di awal musim kemarau!” sentak balik Abdul. “Duluan!” lanjut Abdul yang artinya pamitan pulang.
Abdul marah sama Adi? Baru kali ini terjadi deh kayaknya. Mereka sangat dekat seperti kembar siam. Kok Abdul jadi sensitif ? Aku bertanya dalam hati.
“Di. Kamu juga keterlaluan! Dasar pongo!” seru Liq. Kasar sekali kata-katanya. Karena yang ku tahu, pongo mempunyai arti bodoh, oon dan semacamnya.
“Gak penting lah!” hardik Adi lalu pergi meninggalkan aku dan yang lainnya yang heran dengan sikap Adi, Abdul dan Liq
Serius. Ini masalah serius. Karena ini jarang terjadi malah tak pernah terjadi.



Aku berjalan menuju tempat parkir motor siswa sendirian. Saat ku mendekati motor Beat hitamku, aku melihat Abdul melambaikan tangannya dan di sampingnya juga terlihat Kismawan dan Eka. Aku yakin, lambaian tangannya itu berarti memanggilku. Akupun langsung mendekati mereka.
“Ada apa nih?” tanyaku pada mereka.
“Shut… jangan berisik, sini dengar dan lihat ada apa di balik jendela XI IPA2,” jawab Kismawan.
Aku menoleh ke jendela XI IPA2. Jelas ku lihat dua orang yang ku kenal dan juga suara isak tangis. Aku yakin suara tangisan itu berasal dari Vyie, sedangkan yang berada di samping Vyie, adalah Aneu. Jelas terlihat Aneu menenangkan Vyie.
“Aku bodoh. Memang bodoh!” sentak Vyie.
Aneu memegang wajah Vyie dengan kedua tangannya. “Jangan hanya menangis Vyie. Jelaskan. Mengapa semua seperti ini?” tanya Aneu.
“Aku bodoh Neu. Aku hanya bisa berkata sangat menyakitkan hati Adhita, tadi. Aku bodoh, Neu. Aku mengakui kesalahan yang sebenarnya bukan salahku. Aku benar-benar bodoh!” seru Vyie dengan air mata yang membanjiri pipinya.
Tunggu. Apa aku salah dengar? Vyie bilang tidak melakukan kesalahan itu? Lalu siapa yang sebenarnya melakukan itu?
Aku bersiap untuk menuju Vyie, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi langkahku terhenti karena dengan sigap Eka, Abdul dan Kis menarikku. Menyuruhku tetap di tempatku sekarang,
“Kamu juga akan tahu jawabannya. Kalau kamu kesana, dia tak jadi menceritakannya.” ucap Eka sangat pelan. Mau tak mau aku mengikuti ucapan Eka.
“Lalu, siapa yang melakukannya Vyie?” tanya Aneu melepaskan tangannya dari pipi Vyie, seperti tahu apa yang ingin aku tanyakan
“Aku juga gak tahu Neu…” jawab Vyie.
Benar-benar gak masuk akal. Aku pusing di buatnya. Aku pusing dengan masalah ini. Vyie mengakui kesalahan yang bukan salahnya. Lalu sebenarnya siapa yang melakukannya?
“Kenapa kamu mengakui kesalahan yang bukan salahmu, Vyie? Kamu memang bodoh.” tegas Aneu
“Iya Neu. Aku memang bodoh. Aku iri. Kenapa Adhita yang malas bisa mendapatkan posisi pembawa acara? Padahal aku sudah berusaha sebisa mungkin untuk jadi pembawa acara dalam festival itu. Tanpa di duga, Adhita yang terpilih. Aku bodoh…” keluh Vyie.
Hah? Hanya itu? Ya. Menurutku itu masalah sepele. Mengapa jadi runyam? Aku memang malas. Memang pantas banyak yang meragukanku menjadi pembawa acara festival kemarin.
Sungguh. Aku tak tahan. Aku tak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi nanti. Aku mendekati mereka lalu menyilangkan tangan,
“Hanya karena itu Vyie?” tanyaku sinis di depan Vyie. Vyie tercengang. Terlihat dari wajahnya bahwa ia kaget dengan kehadiranku.
“Ya.” jawab Vyie singkat.
“Tega kamu Vyie. Hanya karena itu kamu mengakui kesalahan fatal. Gak nyangka.” celaku.
“Maafin aku Dhit. Aku gak nyangka kalau semua jadi seperti ini. Dan sungguh, bukan aku yang melakukan itu,” ucap Vyie.
“Konyol. Benar-benar konyol!” seruku dengan tatapan yang jauh lebih sinis.
“Maaf Dhit. Maaf…” Vyie meminta maaf sambil menundukan kepalanya, tak berani menatap wajahku.
“Vyie. Aku yang minta maaf, karena aku tak mengerti keinginanmu itu. Aku tak tahu yang kamu inginkan. Padahal kamu sahabatku. Maaf Vyie, maaf…” ujarku pada Vyie sambil memeluknya. Aku menangis di pundaknya. Aku memang sahabat yang gak berguna. Aku tak tahu harapannya selama ini. Aku hanya menceritakan semua tentangku,
“Iya Dhit. Aku juga janji takkan melakukan hal konyol lagi, aku juga akan terbuka sama kamu, agar tak ada salah paham kayak gini lagi,” ucap Vyie.
“Jadi, kita baikan khan?” tanya ku
“Pasti…” jawab Vyie



Hubungan antara aku dan Vyie sudah membaik. Tapi, aku tetap ingin tahu siapa yang mendaftarkan aku dalam pemilihan pembawa acara tersebut. Satu-satunya kunci dari pertanyaan tersebut adalah, Pak Edi.
“Khan festival sudah selesai. Kenapa masih di pertanyakan?” tanya Pak Edi saat ku tanyakan kembali masalah tersebut.
“Pak. Karena masalah itu, Dhita sama sahabat sempat musuhan. Ayo lah Pak. Dhita janji gak akan membahas masalah itu lagi,” rayuku pada Pak Edi.
“Ok. Baiklah. Sebenarnya, bapak sendiri yang mencalonkan kamu,” ucap Pak Edi.
“Lho? Koq bisa?” tanyaku heran
“Karena, bapak tahu, kamu itu malas. Bapak ingin kamu belajar menggunakan tanggung jawab kamu. Apa kamu tetap malas atau tidak.” jawab Pak Edi santai.
Ouch.



Masalahku dan Vyie akan aku jadikan pelajaran untuk ke depan agar tak berburuk sangka dulu pada sahabat sendiri. Kita harus mencari tahu dulu kebenaran masalah.
“Dhit, ke kantin yuk!” ajak Abdul padaku.
“Ayo!” seruku sambil berjalan di samping Abdul menuju kantin.
“Hei. Ke kantin gak ngajak-ngajak ya!” omel Kis dan Liq saat di kantin.
“Kalian tuh yang gak ngajak-ngajak. Khan kalian duluan yang di kantin!” omel balik aku pada mereka.
“Kita sih hanya di ajak oleh Aneu, Vyie dan Eka. Ikut gabung yuk, di meja sana!” ajak Kis sambil menunjuk meja yang di tempati oleh trio d’JambLE alias Aneu, Vyie, dan Eka.
“Oke…” jawab Abdul, lalu aku mengikuti Abdul menuju trio d’JambLE berada,
“Yang lain mana?” tanya ku pada mereka.
“Yang lain? Yang lain khan anak XI IPA5 semua. Kok malah tanya ke kita? Khan kamu yang anak XI IPA5.” jawab Aneu.
“Oia ya. Tadi ada tugas. Mereka belum selesai,” kataku.
“Hahaha… malas!” sindir Eka,
“Jiah… mentang-mentang tidak malas! Huft.” ucapku sambil memasang tampang pasarahg tapi sebal.
“Iya nih. Eka jahat. Abdul juga malas Ka. Abdul juga merasa tersindir nih!” omel Abdul dengan wajah sok polos,
“Hahaha… aku gak nyindir kok!” bela Eka,
“Iya, tapi menyakitkan hati!” seru aku sambil pura-pura nangis,
“Sorry, sorry…” kata Eka,
Tidak lama kemudian Liq dan Kis datang bersama Adi, Dimas, dan Jainus. Melihat mereka datang, Abdul langsung bergegas pergi.
“Mau kemana Dul?” tanyaku.
“Kemana aja!” jawabnya keras.
Sepertinya aku tahu kenapa Abdul begityu. Pasti ada masalah antara dia dan Adi yang belum selesai. Tapi, apakah mesti seperti ini?








To be continue…

d'jambLE bagian 2 0


“Aku yang melakukannya.” sepatah kata dari mulut Vyie itu membuatku sangat kecewa. Dia sahabatku, tapi berniat menjatuhkanku. Sungguh tidak masuk di akal.
Sejak saat itu aku jarang berkumpul dengan d’JambLE. Dan itu membuat aku di hujani pertanyaan umum tentang tak pernah berkumpulnya aku dengan d’JambLE. Aku hanya menjawab, aku sibuk. Aku tak bisa memberi alasan yang lebih, karena 3 anggota d’JambLE sekelas denganku.
“Dhit. Sesibuk itukah kamu, sampai gak ada waktu sedikitpun untuk kumpul?” tanya Aneu saat singgah di kelasku.
“Aduh, maaf Neu. Aku mau kerjain tugas dulu. Tugasnya harus di kumpulkan sekarang. Aku ke perpus dulu ya!” seruku sambil mengambil sejumlah buku lalu pergi meninggalkan Aneu. Air mataku menetes. Sebenarnya sangat sakit menjauh dari hal yang paling aku sukai. Perih sekali. Tapi akan jauh lebih menyakitkan untuk bertemu Vyie sekarang.
Aku duduk di salah satu kursi perpustakaan, mengambil salah satu komik, dan membacanya.
Rupanya aku salah mengambil komik. Komik yang aku baca berisi tentang pengkhianatan, dan itu membuatku merasakan sakit hati. Tak lama kemudian air mataku menetes kembali. Membasahi lembaran komik tersebut.
“Kenapa semua bisa seperti ini? Kenapa? Ada apa? Sebenernya salahku apa?” batinku dalam hati.
Dari samping kanan, ada yang memberiku tissue. Saat ku lihat siapa yang memberikan, ternyata Eka.
“Saya tahu, Dhit. Sebenarnya ada sesuatu khan? Kamu juga sebenarnya gak pernah sibuk khan? Kenapa kamu menjauh dari kita?” tanya Eka sambil menatapku dalam-dalam. Tatapan yang bersahabat.
Tatapan matanya yang seperti itu itu sungguh membuatku tak kuat untuk merahasiakannya. Pada akhirnya ku ceritakan semuanya pada Eka, dengan pinta agar dia tak menceritakan hal ini pada siapapun.
“Kok begitu sih? Mungkin kamu pernah membuat kesalahan, sehingga dia berbuat seperti itu,” papar Eka,
“Aku juga gak tahu Ka. Kalau aku tahu, dari awal aku akan minta maaf. Tapi, aku saja gak tahu kesalahanku. Dan juga itu bukan alasan khan, untuk Vyie berlaku sekejam itu padaku?” tanyaku dengan air mata yang nyaris tak terbendung lagi.
“Lebih baik kita bicarakan bersama secepatnya. Kalau kamu terus menghindar, masalah ini takkan selesai.” saran Eka dengan bijaknya.
Sungguh. Aku belum tahu apa yang akan aku lakukan setelah ini. Masalah ini betul-betul membuatku seperti itik yang kehilangan induknya.
“Baik. Tapi aku tak tahu, Ka. Harus memulai semuanya darimana? Jujur, aku belum siap menghadapi cobaan ini.” keluhku,
“Sampai kapanpun, sebenarnya manusia tidak akan pernah siap menerima kenyataan. Sebelum pada akhirnya dia mencobanya. Oke Dhit?”



Tekadku untuk menanyakan apa sebenarnya kesalahanku pada Vyie sudah bulat. Dalam perjalananku menuju kelas XI IPA2, aku bertemu dengan Aneu. Dan pada akhirnya pun aku menceritakan semuanya pada Aneu. Aneu juga berkata akan membantu meluruskan semuanya. Benar-benar sahabat yang baik.
“Nis. Liat Vyie gak?” tanyaku pada Denis saat di depan kelas XI IPA2, karena aku belum melihat Vyie.
“Tadi kayaknya pergi ke kantin deh,” jawab Denis datar.
“Oh. Ya udah, makasih ya!”seruku.
Aku terdiam selama berjalan menuju kelasku kembali, dan sepertinya Aneu mengerti keadaanku yang masih syok sekarang. Sesampainya di kelasku, aku duduk di koridor. Bersamaan dengan itu, datang Abdul, Dimas, Adi , dan Jainus.
“Kita ikut menyesal ya dhit, dengan apa yang menimpa kamu sekarang. Kamu gak usah heran kita tahu darimana, karena sebenarnya kita mendengar semua pembicaraan kamu dengan Vyie…” papar Jainus. Kemudian mereka duduk di sampingku.
“Kok kalian gak bilang kalau sebenarnya kalian mendengar apa yang aku dan Vyie bicarakan?” tanyaku heran.
“Jujur Dhit. Kita itu bersahabat khan? Kenapa kamu gak cerita sama kita? Insyaallah kita akan bantu menyelesaikannya.” terang Abdul, “Kita gak bilang, karena kita mau tahu, sejauh mana kamu jujur sama kita.” lanjut Abdul.
Aku merasa bersalah. Hati ini tidak bisa di bohongi. Aku merasakannya. Perasaan yang sangat bersalah. Kenapa aku tak berterus terang saja dengan apa yang terjadi? Kenapa aku harus menghindar dari semua sahabatku yang selalu ada saat suka maupun duka? Apakah aku akan tetap berterus terang, seandainya Eka tidak menegurku di perpustakaan? Alangkah seperti anak kecilnya diriku ini.
“Maafin aku ya semua… bukannya aku tidak mau jujur, tapi aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya pada kalian. Sekali lagi maafin aku ya…” kataku di campur air mata yang menetes.
“Udah ah. Gak usah nangis. Udah jelek, nambah jelek tahu!” canda Dimas. Dengan gemas aku mencubit Dimas. Semua tertawa melihat ekspresi Dimas yang sangatlah lucu ketika kucubit. Betapa damainya aku dengan suasana ini.
“Kamu ini. Tega ya sama teman kalian yang cantik ini?” candaku,
“Dhit. kamu sama aku, masih cantikan Abdul koq!” seru Aneu tidak nyambung.
“Lho? Koq saya sih? Abdul tuh lelaki!” seru balik Abdul tidak terima.
“Tapi bener koq Dul. Antara aku, kamu sama Dimas, pasti cantikan kamu Dul!” ujar Adi,
“Tuh khan, kamu tuh cantik Dul,” kata Aneu dengan wajah sok serius.
“Yah, terpaksa deh, gelar tercantiknya ku serahkan pada Abdul...” ucapku dengan wajah pasrah yang di buat-buat,
“Makasih Dhit. Walaupun Abdul lelaki ganteng, ternyata ada juga yang mengatakan bahwa saya cantik. Saya jadi terharu…” kata Abdul dengan sumringah.
“Udah ah. Benang merah, benang merah. Udah gak bener ini!” seru Dimas sok berwibawa.
Semua tertawa. Bahagia sekali kalau setiap hari bisa seperti ini.
“Hahaha… O ya, kemana yang lainnya?” tanyaku, karena aku tak melihat Eka, Kis, dan Liq.
“Eka dan Liq ada tambahan pelajaran, kalau Kismawan lagi shalat.”jawab Adi.
“Dhit…” panggil Kis tiba-tiba dengan terengah-engah. “Ayo, cepetan ke Masjid!” ajaknya, sambil menarik lenganku.
“Ada apa sih? Gak usah pake narik-narik bisa khan!” seruku karena Kis menarik tanganku dengan kencang, hingga sakit rasanya.
Kis tak menggubrisku. Kis malah mempercepat langkahnya menuju Masjid. Dari belakang Aneu mengikutiku. Sepertinya aku tahu apa yang ingin Kis tunjukan. Vyie. Vyie terlihat sedang bersandar di dinding Masjid dengan wajah yang sangat pucat.
“Astaghfirullahaladzim… Vyie!” segera ku berlari mendekati Vyie dan melepaskan pegangan Kismawan di lenganku. Ku rangkulkan tanganku ke pundaknya, dan Aneu menyentuh dahi Vyie, untuk mengukur suhu badannya.
“Aku baik-baik saja. Tidak usah mengkhawatirkan aku!” ujar Vyie sambil meringis. “Aku…” ucapannya berhenti sampai disitu, ku rasakan ada kejanggalan, dan benar saja. Vyie pingsan



Di UKS

Sekarang sudah 1 jam setelah Vyie pingsan. Selama 1 jam pula aku dan Aneu menemaninya. Kismawan, Jainus, Adi, dan Dimas juga menunggu Vyie siuman di luar UKS, karena pelajaran di kelas XI IPA3 dan XI IPA5 sedang kosong. Jujur, aku khawatir dengan keadaan Vyie.
“Eum…” gumam Vyie. Rupanya dia mulai siuman. Aku langsung bangkit dari dudukku, menuju ranjang UKS. Terlihat jelas ketika Vyie sedang mencoba membuka matanya. Ketika ia sudah benar-benar membuka matanya, dia setengah duduk di ranjang,
“Vyie, kamu sebenernya kamu sakit apa?” tanya Aneu.
Vyie hanya diam menatap lurus ke arah kakinya sendiri.
“Vyie, sebenarnya ada apa?” ku coba untuk bertanya, dan duduk di tepi ranjangnya.
“Dengan?” tanya Vyie sambil manatapku tajam.
“Dengan kamu, dan juga keadaan kamu.” jawabku tegas.
“Aku tak apa-apa,” ucap Vyie. “jadi tak usah memikirkanku.” lanjut Vyie,
“Yakin Vyie?” Aneu mencoba meyakinkan Vyie.
“Kita semua sahabat. Mana mungkin membiarkan sahabatnya sendiri sedang kesusahan,” ujarku pada Vyie.
Vyie berdiri dan pergi dari ranjangnya. Saat berada di pertengahan pintu UKS Vyie menoleh dan berkata pelan, “Aku belum tahu apa kamu sahabatku atau bukan, Dhit.”
Syok. Serius, aku syok. Kaget sekali aku mendengar kata-kata kejam itu. Aku benar-benar sakit hati begitu mendengar pernyataan Vyie. Ku hanya dapat menatap Vyie nanar tanpa bisa menjawabnya.
“Vyie! Kamu kenapa sih!” seru Aneu sambil mendekati Vyie.
“Harusnya kamu tanya ke Adhita. Adhita kenapa?! Bukan aku yang di tanya!” seru balik Vyie.
“Ada apa dengan aku?! Aku baik-baik saja. Yang benar-benar harus di tanya itu kamu! Apa sebenarnya maksud kamu dengan mendaftarkan aku untuk menjadi pembawa acara? Apa salah aku sebenarnya sampai kamu tega melakukan itu?!” bentakku. Aku benar-benar tak bisa menjaga emosiku.
“Kamu gak salah Dhit. Kamu sempurna! Aku yang salah! Aku iri dengan apa yang kamu miliki…” bentak balik Vyie.
“Aku gak sempurna Vyie,” ucapku.
“Kamu sempurna Dhit. Apa yang kamu punya, itu membuat kamu di anak emaskan. Di terima di mana saja. Sifatmu selalu kamu pakai dengan baik. Dan itu sempurna menurutku. Saking sempurnanya kamu, aku sampai bingung harus bagaimana berhadapan dengan kamu. Menyaingi kamu. Aku gak tahu… Kamu seperti musuhku, sainganku,” lanjut Vyie berlinangan air mata.
“Kamu salah…” ucapku lirih.
“Kamu gak pantes Dhit, bersahabat ataupun dekat denganku…” ujar Vyie pelan.
Alasan yang benar-benar konyol dan tidak masuk di akal. Aku kesal dan tak bisa ku bendung lagi. Ku dekati Vyie, dan…
‘PLAK’
Ouch.
Aku menamparnya.









To be continue...

d'jambLE bagian 1 0

Namaku Adhita Krisnha Livandi, biasa di panggil Dhita. Lahir dari keluarga kecil dengan 2 saudara perempuanku. Sekarang aku duduk di kelas XI IPA5 di SMAN 1 Sumber. Kedua adikku masih SMP, adikku yang pertama masih duduk di kelas 9 yang kedua duduk di kelas 7. Kami lahir dari keluarga polisi, dan ini kota ke tujuh yang sudah ku singgahi bersama keluargaku. Kota Cirebon. Sudah 5 tahun kami tinggal disini dan ku harap ini kali terakhir aku berpindah-pindah.
Dengan modal percaya diri yang tinggi, aku beradaptasi lagi. Bukan hal yang luar biasa bagiku dan tentunya aku berhasil beradaptasi, sehingga aku mempunyai teman yang banyak, juga sahabat.
Aku mempunyai sahabat yang setia padaku. Namanya Diane yang biasa di panggil Aneu dan Vinanthy yang biasa di panggil Vyie. Aneu adalah siswi kelas XI IPA3. Dia manis, cerdas, baik, walaupun dia berwatak keras dan condong bersifat egois. Sedangkan Vyie siswi kelas XI IPA2. Vyie cantik, pintar, baik, juga mempunyai ego yang tinggi. Aneu selalu mempunyai waktu untuk mendengar semua keluh kesahku, Vyie pun begitu. Walaupun kami tak sekelas, kami selalu meluangkan waktu untuk bersama. Selain Ane dan Vyie, ada 7 teman dekatku lagi. Semuanya lelaki. Ada Abdul, Dimas, Eka, Adi, Jainus, Kismawan yang biasa di panggil Kis dan Liq. Dimas, Adi, dan Jainus sekelas denganku. Dimas yang sipit ini keras kepala tetapi baik, Adi humoris dan supel walau terkadang kelewatan, dan Jainus mempunyai sifat kekanak-kanakan namun terkadang dewasa. Mereka bertiga sekelas denganku, sedangkan Abdul yang dewasa dan baik adalah siswa kelas XI IPS 1. Kis yang cerdas dan selalu tegas ini menemani Aneu menjadi siswa kelas XI IPA3. Liq yang kalau bercanda keterlaluan terselip sendiri di XI IPA6, sedangkan Eka yang dewasa, pendiam dan cerdas adalah siswa KSI, XI IPA1. Kami bersepuluh sangatlah akrab. Kalau sudah bertemu, selalu bercanda dan tak ada yang canggung atau jaim. Dan itu sudah terjalin dari SMP. Kami juga membuat perkumpulan. Namanya adalah d’JambLE.

Siang itu, di depan kelas XI IPA5

“Dhita!” panggil Dimas dari arah belakangku sambil mendekatiku.
“Ada apa Dimas?” tanyaku sambil menyilangkan tangan dan mengangkat satu alisku.
“Kamu tau ga? Kamu terpilih menjadi pembawa acara festival besok! Kok kamu gak kasih tau kita sih, kalau kamu ikut mendaftar?” tanya balik Dimas sambil memegang pundakku.
Kontan saja aku kaget. Karena aku yang terpilih ini, merasa tak pernah mendaftar. “Kamu dapat informasinya darimana, Dim?” tanyaku lagi.
“Tadi aku ketemu Pak Edi. Dan kata Pak Edi, kamu terpilih. Kalau mau tahu lebih lanjut, langsung tanya Pak Edi saja.” jawab Dimas.
Tanpa pikir panjang, akupun bergegas menuju kantor guru. Beruntung, di tengah perjalanan aku bertemu Aneu dan Vyie, sehingga aku tak sendiri memasuki ruang kantor.
“Assalamualaikum, Pak,” salamku pada Pak Edi.
“Wallaikumsalam. Ada keperluan apa?” tanya Pak Edi pada kami,
“Dhita mau tanya, Bapak. Dhita tidak pernah merasa mendaftar pada formulir pemilihan pembawa acara besok. Kok tiba-tiba Dhita yang terpilih ya?” protesku setenang mungkin, walau sebenarnya hati ini panik.
“Bapak hanya memilih saja ya, Dhit. Bapak tidak tahu menahu soal itu.” jawab Pak Edi sambil membetulkan mejanya.
“Tapi Pak, Dhita itu lemah dalam berbicara formal di depan orang banyak. Dhita takut tidak sesuai dengan pembawa acara selayaknya,” jawabku lancar.
“Dhita. Kamu di pilih karena sudah di pertimbangkan matang-matang,” papar Pak Edi. “dan juga, Bapak yakin. Kamu bisa. Kamu pasti siap melaksanakan kepercayaan yang sudah Bapak berikan pada kamu.” lanjut Pak Edi sambil tersenyum.
Sambil membalas senyum Pak Edi dengan senyumku yang kecut, aku berinisiatif tidak mau protes lagi. Ku ajak dengan isyarat pada Aneu dan Vyie untuk keluar. “Ya sudah. Kami kembali ke kelas dulu ya Pak. Assalamualaikum,” salamku bersamaan dengan Aneu dan Vyie.
“Wallaikumsalam,” salam balik Pak Edi.
Kami berjalan dengan irama kaki yang sama, tanpa suara yang terlontar diantara kami bertiga. Sampai di depan kelasku, Vyie membuka suara.
“Sebenernya ada apa sih Dhit?” tanya Vyie dengan nada datar di padukan suaranya yang tinggi.
“Ya ampun Vyie. Kamu ‘nda mudeng juga toh? Dari tadi khan sudah di jelaskan oleh Pak Edi dan Dhita!” seru Aneu kesal. “Dhit. Kayaknya ada orang yang sentimen deh, sama kamu. Dan sepertinya dia bukan orang jauh. tapi orang deket kamu. Karena hanya orang terdekat kamu yang tahu kalau kamu itu lemah dalam percakapan formal kayak pembawa acara gitu.” Aneu menjelaskan panjang lebar karena dia tahu kelemahanku.
Tiba-tiba Adi featuring Abdul datang, dan mereka bertanya dengan polosnya, “Ada apaan nih? Kok gak ngajak kita sih?”
Otakku seperti berputar sangat cepat begitu mereka menampakan wajahnya. Ku fikir, anak IPS seperti Abdul pasti sangat pintar berkomunikasi. Langsung ku tarik tangan mereka berdua dan mengajak mereka menuju perpustakaan.
“Hei… Mau ngapain Dhit, narik-narik saya segala?” tanya Abdul sambil berjalan.
“Kamu anak IPS khan Dul? Aku ada perlu sama kamu,” jawabku tanpa berhenti berjalan.
“Aku khan anak IPA, Dhit. Koq aku di bawa-bawa?” Adi bertanya dengan wajah polosnya.
“Kalian berdua khan udah kayak ‘kembar siam’. Berdua terus. Walaupun beda kelas, selalu saja sedang berdua. Kalau kalian terpisah khan, aneh rasanya.” Ujarku lancar. Aku hanya menjawab sesuai fakta saja.
Setelah sampai di perpustakaan, ku jelaskan pada mereka panjang lebar dan sejelas-jelasnya, mereka dengan senang hati membantuku. Sampai pada akhirnya waktu istirahat habis, dan kembali ke kelas masing-masing.



Malamnya di rumahku

Malam ini rumahku ramai. Belum pernah aku merasakan ramai tapi damai kayak gini. Jujur, aku seneng banget punya sahabat kayak para anggota d’JambLE. Mereka sampai bela-belain menginap di rumah untuk ngebantu temannya yang sedang kesusahan ini. Sampai akhirnya aku paham cara bagaimana berkomunikasi.
Selesainya aku paham dan mengerti, kami berkumpul di ruang tengah keluargaku. Bercanda gurau sampai jam menunjukan pukul 22.15. Dan aku berinisiatif untuk mengajak mereka tidur, karena kalau tidak kami tidak akan tidur karena keasyikan bergurau.
Sebelum tidur, Vyie sempat bercerita bahwa dia sangat mengagumi salah satu peserta Festival besok. Tetapi dia tidak mau berterus terang, siapa orang tersebut. Huh. Bikin penasaran saja.




Keesokan paginya, di sekolah

Persiapan festival hari ini sangat ramai. Sebagai crew, aku dapat keluar masuk dengan gampangnya ke dalam ruangan khusus panitia. Dan itu sangat ku idamkan mengingat aku jarang mengikuti kegiatan organisasi. Di dalam ruangan itu, aku bertemu dengan anggota OSIS dan para peserta festival. Banyak di antaranya kelas XII. Ku beranikan diri untuk menyapa mereka. Hitung-hitung buat latihan.
Di antara peserta festival yang ada, ada seorang siswa yang membuatku penasaran. Setahuku dia bernama Indra. Pembawaannya yang sangat cuek itu, membuatku ingin tahu. Kutanyakan semua yang ingin ku tanyakan padanya. Untungnya dia menjawab semua pertanyaanku. Dari pembicaraan kami, baru ku ketahui bahwa Indra sebenarnya tak ingin mengikuti festival ini. Kurang lebih sama dengan apa yang ku rasakan.
Tanpa terasa, festival akan di mulai. Aku baru menyadarinya saat Vyie menyuruhku menyiapkan pembuka acara. Aku dan Indra berpencar menyiapkan keperluan masing-masing.
“Vyie, tahu catatan acaraku gak?” tanyaku pada Vyie, setelah sadar bahwa catatan acaraku hilang.
Vyie menatapku tajam dan sinis. Lalu dia menjawab dengan datarnya, “gak. Makanya persiapin matang-matang dari awal dong.”
Aku tercengang. Tak pernah Vyie sesinis itu padaku. Bibir ini serasa akan berkata sesuatu, tetapi tertahan. Entah oleh apa. Dia sahabatku, aku tak boleh membalasnya. Dan yang Vyie katakan memang benar. Aku kurang mempersiapkan.



Sorenya, selesai festival

Seperti biasa, aku pulang dengan semua sahabatku. Mereka bergurau dan mengejek beberapa kesalahanku saat membawa acara. Aku yang di ejek ini hanya bisa diam dan sedikit malu mengingatnya. Mereka tertawa puas saat menyadari aku malu.
“Hahaha… tapi kamu bikin kita bangga kok. Kamu bisa dengan system kebut semalam!” seru Kismawan,
“Dan juga kamu bisa bikin yang ngerjain kamu itu sebal. Karena maksud dia itu mempermalukan kamu, ternyata kamu bisa. Betul gak?” Jainus menambahkan.
Gelak tawa mereka benar-benar membuatku ikut tertawa. Dari semuanya, hanya Vyie yang terdiam seperti memikirkan sesuatu. Lalu Vyie berjalan sangat lambat dan tertinggal di belakang. Dengan langkah di perlambat juga, aku berjalan di samping Vyie.
“Vyie, kamu tadi kenapa?” tanyaku pelan,
“Gak apa-apa.” jawabnya datar.
“Tapi tadi kamu gak seperti biasanya lho, Vyie. Kamu seperti orang lain.” ucapku dengan harapan Vyie menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
“Serius. Aku gak apa-apa!” sentak Vyie kecil. “Dhit. Please. Jangan ajak aku ngobrol dulu.” lanjutnya.
“Tapi Vyie…” aku terdiam sejenak untuk memikirkan alasan yang pas untuk Vyie.
“Aku yang melakukannya…” kata Vyie dengan tatapannya lurus ke depan..
Aku tak mengerti apa yang di maksud oleh Vyie. Dahiku pun terlipat dan alisku terangkat sebagai tanda tak mengerti.
“Yang mendaftarkan kamu untuk menjadi pembawa acara. Aku yang melakukannya,”












To be continue…

Kamis, 25 Maret 2010