Abdul dan Adi bertengkar. Dan ini yang pertama kalinya, sang ‘kembar siam’ bertengkar dan berpencar. Sangatlah aneh menurutku.
Aku gak nyaman dengan keadaan seperti ini. Ini bukan d’JambLE yang seperti dulu. Abdul tak pernah lagi kumpul. Dan ku yakin, ini bukan hanya karena ada masalah dengan Adi saja.
“Ngerasa gak sih, kalau Abdul gak pernah gabung lagi?” tanyaku.
“Ya. Dia benar-benar menghilang dari peredaran.” Dimas menjawab pertanyaanku,
“Alah. Dianya aja yang pongo!” seru Liq.
Aku melotot ke arah Liq. Sumpah. Aku tidak suka kata-katanya itu. “Liq. Kata-kata kamu gak pantes.” ucapku sinis,
“Iya Liq. Apa lagi suasana lagi gak enak kayak gini,” timpal Aneu gak kalah sinis.
“Mulut, mulut saya!” protes Liq,
“Tapi gak boleh sekasar itu!” seru Vyie.
“Terserah saya!” protes Liq lagi.
Huh. Aku benar-benar kesal. Ingin sekali aku mencubitnya,
“Heh Liq! Kamu jangan kasar kalau ngomongin sahabat saya! Abdul sahabat saya. Gak boleh ada yang kasar!” bentak Adi, “Kalau saya gak ingat kamu juga sahabat saya, saya sudah gak mau kenal kamu lagi!” lanjut Adi.
“Ya udah. Kita gak usah kenal lagi!” sahut Liq. Tanpa sepatah kata pun lagi Liq pergi meninggalkan kami.
“Lho, lho! Koq jadi kayak gini sih?!” kata Jainus heran. “Di. Kok kamu ngomong gitu sih?! Jadi tambah ribet lagi nih!” tambah Jainus.
“Jangan salahkan saya,” jawab Adi singkat, lalu pergi entah kemana.
“Semua jadi tambah rumit…” keluh Dimas pelan.
“Emang,awal mulanya siapa yang salah?” tanya Vyie bingung,
“Adi… awalnya hanya bercanda, tapi kayaknya Abdul lagi punya masalah. Gak bisa di bercandain dulu. Jadi gini deh.” jawab Kis.
“Kita harus menyatukan sang ‘kembar siam’ d’JambLE lagi!” seru Dimas.
Misi menyatukan ‘kembar siam’ mulai terencana. Aku menyarankan agar aku, Aneu, Vyie, dan Eka yang merayu Abdul, sedangkan sisanya merayu Adi.
“Dul. Aku sahabat kamu khan? Cerita donk kalau kamu ada masalah…” ucapku mulai merayu,
“Iya Dul. Aku gak mau, kamu selalu mendengar keluhanku, tapi kamu gak terbuka sama aku.” Aneu menambahkan.
“Aduh. Maaf ya, Abdul gak bisa cerita,” kata Abdul dengan senyum di buat-buat.
“Jangan pakai topeng di depan aku, Dul! Aku gak suka!” seruku dengan nada yang mulai meninggi.
“Abdul gak pake topeng Dhit!” omel Abdul.
“Kamu pakai topeng! Kamu gak usah senyum kalau gak mau senyum Dul!” protesku. Aku tahu Abdul itu bagaimana, jadi aku gak suka kalau Abdul bukan jadi diri sendiri.
“Oke Dhit! Abdul gak akan senyum lagi ke kamu!” protes balik Abdul.
“Jangan kayak gitu juga donk Dul! Aku mau kamu be your self saja. Terus, kamu tuh terbuka sama sahabat-sahabat kamu.” ucapku pelan,
“Abdul ngerti kok Dhit, maksud naik kamu. Tapi serius Dhit. Ini privacy Abdul,” jelas Abdul.
“Tapi sampai kapan Dul?” tanya Vyie,
“Sampai Abdul ngerasa, udah saatnya.” jawab Abdul singkat dan jelas.
Aku mengajak d’JambLE kembali berkumpul di depan XI IPA5. Untuk membahas ‘kembar siam’ lagi.
“Kis, Jainus, dan Dimas. Gimana masalah Adi? Sudah ada titik terang belum?” tanya Eka mengawali pertemuan kali ini.
“Boro-boro titik terang. Yang ada kita di bentak terus sama Adi!” jawab Jainus yang terlihat kesal.
“Terus?” tanya Aneu juga,
“Terus Adi pergi. Kita gak mau ngikuti lagi, takut di bentak lagi!” jawab Kis,
“Dan juga, takut kalau Adi udah marah. Kayaknya lebih seram dia lagi marah, daripada melihat setan. Hi...” tambah Dimas,
“Aduh! Sampai lupa! Gimana sama Liq?” tanya Aneu lagi. Dan pertanyaan itu juga menyadarkanku, bahwa kita melupakan Liq. Tapi, ya sudah. Sepertinya bukan masalah besar menurutku.
“Kalau Liq, kita urus setelah masalah ‘kembar siam’ saja deh.” jawabku santai.
Di rumahku
Kalau sore memang paling pas untuk membaca buku. Sore ini sudah ku siapkan dua komik, satu novel dan satu buku pelajaran. Ketika aku akan membaca komik, aku teringat akan Abdul. Aku berinisiatif menelefon Abdul.
“Halo, assalamualaikum,” ucapku saat mendengar telefonku di angkat oleh Abdul,
“Wallaikumsalam… ada apa Dhit?” tanya Abdul.
“Dul. Sebagai sahabatmu, bolehkah aku tahu keadaanmu?” tanya balik aku basa-basi.
“Ya. Boleh. Abdul baik-baik saja.” jawab Abdul.
“Kalau dengan perasaanmu? Apakah sebaik keadaanmu?” tanyaku kembali.
“Kurang tahu Dhit.” jawabnya singkat,
“Dul. Cerita donk! Aku gak suka kalau kamu kayak gini!” seru aku,
“Abdul gak yakin Dhit. Masalahnya kamu khan kayak ‘ember bocor’.” ucap Abdul,
“Wadduh! Maksudnya apa nih, Dul?! Kamu gak percaya sama Adhita, gitu?”
“Gak, Dhit. Abdul percaya kok!” ujar Abdul, “Abdul lagi ada masalah sama bandnya Abdul. Abdul jadi emosian. Adi jadi kena getahnya. Abdul takut, Adi benci sama Abdul. Jadi Abdul mau ngejauh dulu dari Adi,” Abdul mulai bercerita.
“Dasar bodoh! Kalau kamu menjauh, semua mengira kamu yang marah! Gimana sih?!” omel aku,
“Yah, Dhit. Abdul tahu Adi kayak gimana. Adi pasti marah sama Abdul,” sergah Abdul.
Huh. Kalau saja Abdul ada di depanku, sudah ku cubit kali. Kesal sekali! Kalau aku jadi Abdul, aku gak akan seperti Abdul sekarang, paranoid sendiri.
“Dul! Tahu gak? Adi sama Liq lagi diem-dieman lho! Itu semua karena Liq ngejek kamu tadi. Berarti, Adi marah gak coba sama kamu?” tanyaku pelan,
“Gak tahu ah Dhit! Abdulnya gak tahu mau mualai dari mana kalau baikan sama Adi.” jawab Abdul dengan nada pasrah,
“Gampang saja Dul. Kamu ikut ngumpul lagi kayak biasa dan ajak ngobrol seperti biasa!” usulku,
“Abdul gak mau ngumpul Dhit,” ucap Abdul tiba-tiba, membuatku heran.
“Ada apa lagi?” tanyaku kesal,
“Abdul terkadang merasa minder. Hanya Abdul yang anak IPS. Semuanya anak IPA.” jawab Abdul,
“Dul! Jangan kayak anak kecil lah. Kamu tuh sama di mata kita. Lagian, aku anak IPA gadungan. aku sebenarnya gak cocok masuk IPA. Lebih baik kamu Dul, masuk jurusan yang sesuai dengan keinginan kamu!” tegurku,
“Iya Dhit. Abdul ngerti.” kata Abdul.
“Oke. Ya udah deh, lanjut besok saja ya! Pulsa aku mau habis! Bye Abdulku! Assalamualaikum!”
“Iya. Makasih ya Dhit atas semuanya. Oya, Wallaikumsalam Adhita…”
Segera ku tutup telefonnya. Dan ku ambil komik yang ingin ku baca tadi, dan mulai membacanya.
“Pagi semua!” sapaku pada Adi, Dimas, Aneu, Kis, dan Jainus ketika ku lihat mereka di depan kelasku.
“Pagi Dhit!” sapa balik Adi dan yang lainnya,
“Dhit!” panggil ketua kelas XI IPA5, Budi,
“Ada apa Bud?” tanyaku sambil mendekati Budi,
Tiba-tiba Budi menyerahkan sesuatu padaku, yaitu sapu. “Piket!!!” seru Budi,
“Oia ya! Aku piket hari ini!” ucapku.
“Huh. Kamu tuh tiap piket mesti di ingetin terus! Kapan mandirinya?” protes Budi.
“Tunggu kalau udah kuliah.” jawabku sekenanya,
“Kalau di nasehatin tuh ya, jawab terus!” keluh Budi, “Oia. Tahu gak? Anak XI IPA6, Facebooknya di hack sama temen kamu tuh!” lanjut Budi,
“Temen aku? Siapa?” tanyaku,
“Liq! Nnyebelin ya!” jawab Budi.
Aku melotot kaget, dan menyerahkan kembali sapu ke Budi, dan aku langsung pergi mendekati setengah anak d’JambLE yang barusan sedang kumpul.
“Hei! Ada masalah! Liq cari gara-gara!” seruku,
“Tuh anak mah emang selalu cari gara-gara Dhit! Gak usah heran!” ujar Adi sinis.
“Adi! Gak boleh gitu ah!” omel Aneu.
“Emang masalahnya apa Dhit?” tanya Dimas,
“Dia…” belum sempat melanjutkan kata-kataku, Desi Ayu yang biasa di panggil Ayu lewat, berhenti di antara kita, dan mengatakan,
“Eh! Tolong ya, bilangin sama temen kalian yang kurang ajar itu! Gak usah pake hack facebook gue gitu, bisa gak? Kalau punya masalah sama gue, bilang! Bukan dengan cara licik kayak gitu!” sentak Ayu,
“Kok ngomong ke kita? Kenapa gak ke orangnya langsung?” tanya Jainus dengan polosnya,
“Gak mau! Jijik gue ngomong sama anak kurang ajar kayak gitu!” jawab Ayu, “Ya udah. Pokoknya tolong bilangin ya, gue mau pergi dulu,” lanjut Ayu, lalu pergi.
“Bener-bener ya si Liq. Bikin orang marah terus,” keluh Kis.
“Ya, tahu sendirilah, anak itu kayak gimana,” timpal Dimas.
“Itu khan kesalahan saya! Kenapa kalian marah?” tanya Liq, ketika Aku, Dimas, dan Jainus menegur perbuatannya.
“Saya hanya menegur, ya Liq! Saya gak marah!” seru Dimas,
“Ya sudah, kenapa kalian mesti susah-susah menegur aku? Gak perlu. Karena gak penting,” ujar Liq
“Emang gak penting,” cetusku.
“Ya sudah, ngapain lagi kalian masih di sini?!” sentak Liq.
“Heh! Asal kamu tahu ya! Ayu yang nyuruh kita untuk negur kamu! Karena dia gak mau ngomong sama kamu lagi!” aku naik darah,
“Betul!” kata Jainus sambil menyilangkan tangan dan menganggukan kepalanya,
“Udah?” tnya Liq seperti tanpa dosa,
“Eh! Kamu tuh bener-bener nyebelin ya?! Pantes banyak yang sebel sama kamu!” bentak aku, marah.
“Yang menyebalkan aku ini!” serunya lalu pergi.
Huh. Masalah Abdul dan Adi belum selesai, datang lagi masalah dari Liq yang menyebalkan ini.
To be continue…
d'jambLE bagian 4
15 tahun yang lalu


















Lihat Daftar Isi !
.jpg)


