
“Aku yang melakukannya.” sepatah kata dari mulut Vyie itu membuatku sangat kecewa. Dia sahabatku, tapi berniat menjatuhkanku. Sungguh tidak masuk di akal.
Sejak saat itu aku jarang berkumpul dengan d’JambLE. Dan itu membuat aku di hujani pertanyaan umum tentang tak pernah berkumpulnya aku dengan d’JambLE. Aku hanya menjawab, aku sibuk. Aku tak bisa memberi alasan yang lebih, karena 3 anggota d’JambLE sekelas denganku.
“Dhit. Sesibuk itukah kamu, sampai gak ada waktu sedikitpun untuk kumpul?” tanya Aneu saat singgah di kelasku.
“Aduh, maaf Neu. Aku mau kerjain tugas dulu. Tugasnya harus di kumpulkan sekarang. Aku ke perpus dulu ya!” seruku sambil mengambil sejumlah buku lalu pergi meninggalkan Aneu. Air mataku menetes. Sebenarnya sangat sakit menjauh dari hal yang paling aku sukai. Perih sekali. Tapi akan jauh lebih menyakitkan untuk bertemu Vyie sekarang.
Aku duduk di salah satu kursi perpustakaan, mengambil salah satu komik, dan membacanya.
Rupanya aku salah mengambil komik. Komik yang aku baca berisi tentang pengkhianatan, dan itu membuatku merasakan sakit hati. Tak lama kemudian air mataku menetes kembali. Membasahi lembaran komik tersebut.
“Kenapa semua bisa seperti ini? Kenapa? Ada apa? Sebenernya salahku apa?” batinku dalam hati.
Dari samping kanan, ada yang memberiku tissue. Saat ku lihat siapa yang memberikan, ternyata Eka.
“Saya tahu, Dhit. Sebenarnya ada sesuatu khan? Kamu juga sebenarnya gak pernah sibuk khan? Kenapa kamu menjauh dari kita?” tanya Eka sambil menatapku dalam-dalam. Tatapan yang bersahabat.
Tatapan matanya yang seperti itu itu sungguh membuatku tak kuat untuk merahasiakannya. Pada akhirnya ku ceritakan semuanya pada Eka, dengan pinta agar dia tak menceritakan hal ini pada siapapun.
“Kok begitu sih? Mungkin kamu pernah membuat kesalahan, sehingga dia berbuat seperti itu,” papar Eka,
“Aku juga gak tahu Ka. Kalau aku tahu, dari awal aku akan minta maaf. Tapi, aku saja gak tahu kesalahanku. Dan juga itu bukan alasan khan, untuk Vyie berlaku sekejam itu padaku?” tanyaku dengan air mata yang nyaris tak terbendung lagi.
“Lebih baik kita bicarakan bersama secepatnya. Kalau kamu terus menghindar, masalah ini takkan selesai.” saran Eka dengan bijaknya.
Sungguh. Aku belum tahu apa yang akan aku lakukan setelah ini. Masalah ini betul-betul membuatku seperti itik yang kehilangan induknya.
“Baik. Tapi aku tak tahu, Ka. Harus memulai semuanya darimana? Jujur, aku belum siap menghadapi cobaan ini.” keluhku,
“Sampai kapanpun, sebenarnya manusia tidak akan pernah siap menerima kenyataan. Sebelum pada akhirnya dia mencobanya. Oke Dhit?”
Tekadku untuk menanyakan apa sebenarnya kesalahanku pada Vyie sudah bulat. Dalam perjalananku menuju kelas XI IPA2, aku bertemu dengan Aneu. Dan pada akhirnya pun aku menceritakan semuanya pada Aneu. Aneu juga berkata akan membantu meluruskan semuanya. Benar-benar sahabat yang baik.
“Nis. Liat Vyie gak?” tanyaku pada Denis saat di depan kelas XI IPA2, karena aku belum melihat Vyie.
“Tadi kayaknya pergi ke kantin deh,” jawab Denis datar.
“Oh. Ya udah, makasih ya!”seruku.
Aku terdiam selama berjalan menuju kelasku kembali, dan sepertinya Aneu mengerti keadaanku yang masih syok sekarang. Sesampainya di kelasku, aku duduk di koridor. Bersamaan dengan itu, datang Abdul, Dimas, Adi , dan Jainus.
“Kita ikut menyesal ya dhit, dengan apa yang menimpa kamu sekarang. Kamu gak usah heran kita tahu darimana, karena sebenarnya kita mendengar semua pembicaraan kamu dengan Vyie…” papar Jainus. Kemudian mereka duduk di sampingku.
“Kok kalian gak bilang kalau sebenarnya kalian mendengar apa yang aku dan Vyie bicarakan?” tanyaku heran.
“Jujur Dhit. Kita itu bersahabat khan? Kenapa kamu gak cerita sama kita? Insyaallah kita akan bantu menyelesaikannya.” terang Abdul, “Kita gak bilang, karena kita mau tahu, sejauh mana kamu jujur sama kita.” lanjut Abdul.
Aku merasa bersalah. Hati ini tidak bisa di bohongi. Aku merasakannya. Perasaan yang sangat bersalah. Kenapa aku tak berterus terang saja dengan apa yang terjadi? Kenapa aku harus menghindar dari semua sahabatku yang selalu ada saat suka maupun duka? Apakah aku akan tetap berterus terang, seandainya Eka tidak menegurku di perpustakaan? Alangkah seperti anak kecilnya diriku ini.
“Maafin aku ya semua… bukannya aku tidak mau jujur, tapi aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya pada kalian. Sekali lagi maafin aku ya…” kataku di campur air mata yang menetes.
“Udah ah. Gak usah nangis. Udah jelek, nambah jelek tahu!” canda Dimas. Dengan gemas aku mencubit Dimas. Semua tertawa melihat ekspresi Dimas yang sangatlah lucu ketika kucubit. Betapa damainya aku dengan suasana ini.
“Kamu ini. Tega ya sama teman kalian yang cantik ini?” candaku,
“Dhit. kamu sama aku, masih cantikan Abdul koq!” seru Aneu tidak nyambung.
“Lho? Koq saya sih? Abdul tuh lelaki!” seru balik Abdul tidak terima.
“Tapi bener koq Dul. Antara aku, kamu sama Dimas, pasti cantikan kamu Dul!” ujar Adi,
“Tuh khan, kamu tuh cantik Dul,” kata Aneu dengan wajah sok serius.
“Yah, terpaksa deh, gelar tercantiknya ku serahkan pada Abdul...” ucapku dengan wajah pasrah yang di buat-buat,
“Makasih Dhit. Walaupun Abdul lelaki ganteng, ternyata ada juga yang mengatakan bahwa saya cantik. Saya jadi terharu…” kata Abdul dengan sumringah.
“Udah ah. Benang merah, benang merah. Udah gak bener ini!” seru Dimas sok berwibawa.
Semua tertawa. Bahagia sekali kalau setiap hari bisa seperti ini.
“Hahaha… O ya, kemana yang lainnya?” tanyaku, karena aku tak melihat Eka, Kis, dan Liq.
“Eka dan Liq ada tambahan pelajaran, kalau Kismawan lagi shalat.”jawab Adi.
“Dhit…” panggil Kis tiba-tiba dengan terengah-engah. “Ayo, cepetan ke Masjid!” ajaknya, sambil menarik lenganku.
“Ada apa sih? Gak usah pake narik-narik bisa khan!” seruku karena Kis menarik tanganku dengan kencang, hingga sakit rasanya.
Kis tak menggubrisku. Kis malah mempercepat langkahnya menuju Masjid. Dari belakang Aneu mengikutiku. Sepertinya aku tahu apa yang ingin Kis tunjukan. Vyie. Vyie terlihat sedang bersandar di dinding Masjid dengan wajah yang sangat pucat.
“Astaghfirullahaladzim… Vyie!” segera ku berlari mendekati Vyie dan melepaskan pegangan Kismawan di lenganku. Ku rangkulkan tanganku ke pundaknya, dan Aneu menyentuh dahi Vyie, untuk mengukur suhu badannya.
“Aku baik-baik saja. Tidak usah mengkhawatirkan aku!” ujar Vyie sambil meringis. “Aku…” ucapannya berhenti sampai disitu, ku rasakan ada kejanggalan, dan benar saja. Vyie pingsan
Di UKS
Sekarang sudah 1 jam setelah Vyie pingsan. Selama 1 jam pula aku dan Aneu menemaninya. Kismawan, Jainus, Adi, dan Dimas juga menunggu Vyie siuman di luar UKS, karena pelajaran di kelas XI IPA3 dan XI IPA5 sedang kosong. Jujur, aku khawatir dengan keadaan Vyie.
“Eum…” gumam Vyie. Rupanya dia mulai siuman. Aku langsung bangkit dari dudukku, menuju ranjang UKS. Terlihat jelas ketika Vyie sedang mencoba membuka matanya. Ketika ia sudah benar-benar membuka matanya, dia setengah duduk di ranjang,
“Vyie, kamu sebenernya kamu sakit apa?” tanya Aneu.
Vyie hanya diam menatap lurus ke arah kakinya sendiri.
“Vyie, sebenarnya ada apa?” ku coba untuk bertanya, dan duduk di tepi ranjangnya.
“Dengan?” tanya Vyie sambil manatapku tajam.
“Dengan kamu, dan juga keadaan kamu.” jawabku tegas.
“Aku tak apa-apa,” ucap Vyie. “jadi tak usah memikirkanku.” lanjut Vyie,
“Yakin Vyie?” Aneu mencoba meyakinkan Vyie.
“Kita semua sahabat. Mana mungkin membiarkan sahabatnya sendiri sedang kesusahan,” ujarku pada Vyie.
Vyie berdiri dan pergi dari ranjangnya. Saat berada di pertengahan pintu UKS Vyie menoleh dan berkata pelan, “Aku belum tahu apa kamu sahabatku atau bukan, Dhit.”
Syok. Serius, aku syok. Kaget sekali aku mendengar kata-kata kejam itu. Aku benar-benar sakit hati begitu mendengar pernyataan Vyie. Ku hanya dapat menatap Vyie nanar tanpa bisa menjawabnya.
“Vyie! Kamu kenapa sih!” seru Aneu sambil mendekati Vyie.
“Harusnya kamu tanya ke Adhita. Adhita kenapa?! Bukan aku yang di tanya!” seru balik Vyie.
“Ada apa dengan aku?! Aku baik-baik saja. Yang benar-benar harus di tanya itu kamu! Apa sebenarnya maksud kamu dengan mendaftarkan aku untuk menjadi pembawa acara? Apa salah aku sebenarnya sampai kamu tega melakukan itu?!” bentakku. Aku benar-benar tak bisa menjaga emosiku.
“Kamu gak salah Dhit. Kamu sempurna! Aku yang salah! Aku iri dengan apa yang kamu miliki…” bentak balik Vyie.
“Aku gak sempurna Vyie,” ucapku.
“Kamu sempurna Dhit. Apa yang kamu punya, itu membuat kamu di anak emaskan. Di terima di mana saja. Sifatmu selalu kamu pakai dengan baik. Dan itu sempurna menurutku. Saking sempurnanya kamu, aku sampai bingung harus bagaimana berhadapan dengan kamu. Menyaingi kamu. Aku gak tahu… Kamu seperti musuhku, sainganku,” lanjut Vyie berlinangan air mata.
“Kamu salah…” ucapku lirih.
“Kamu gak pantes Dhit, bersahabat ataupun dekat denganku…” ujar Vyie pelan.
Alasan yang benar-benar konyol dan tidak masuk di akal. Aku kesal dan tak bisa ku bendung lagi. Ku dekati Vyie, dan…
‘PLAK’
Ouch.
Aku menamparnya.
To be continue...

















Lihat Daftar Isi !
.jpg)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar