Namaku Adhita Krisnha Livandi, biasa di panggil Dhita. Lahir dari keluarga kecil dengan 2 saudara perempuanku. Sekarang aku duduk di kelas XI IPA5 di SMAN 1 Sumber. Kedua adikku masih SMP, adikku yang pertama masih duduk di kelas 9 yang kedua duduk di kelas 7. Kami lahir dari keluarga polisi, dan ini kota ke tujuh yang sudah ku singgahi bersama keluargaku. Kota Cirebon. Sudah 5 tahun kami tinggal disini dan ku harap ini kali terakhir aku berpindah-pindah.
Dengan modal percaya diri yang tinggi, aku beradaptasi lagi. Bukan hal yang luar biasa bagiku dan tentunya aku berhasil beradaptasi, sehingga aku mempunyai teman yang banyak, juga sahabat.
Aku mempunyai sahabat yang setia padaku. Namanya Diane yang biasa di panggil Aneu dan Vinanthy yang biasa di panggil Vyie. Aneu adalah siswi kelas XI IPA3. Dia manis, cerdas, baik, walaupun dia berwatak keras dan condong bersifat egois. Sedangkan Vyie siswi kelas XI IPA2. Vyie cantik, pintar, baik, juga mempunyai ego yang tinggi. Aneu selalu mempunyai waktu untuk mendengar semua keluh kesahku, Vyie pun begitu. Walaupun kami tak sekelas, kami selalu meluangkan waktu untuk bersama. Selain Ane dan Vyie, ada 7 teman dekatku lagi. Semuanya lelaki. Ada Abdul, Dimas, Eka, Adi, Jainus, Kismawan yang biasa di panggil Kis dan Liq. Dimas, Adi, dan Jainus sekelas denganku. Dimas yang sipit ini keras kepala tetapi baik, Adi humoris dan supel walau terkadang kelewatan, dan Jainus mempunyai sifat kekanak-kanakan namun terkadang dewasa. Mereka bertiga sekelas denganku, sedangkan Abdul yang dewasa dan baik adalah siswa kelas XI IPS 1. Kis yang cerdas dan selalu tegas ini menemani Aneu menjadi siswa kelas XI IPA3. Liq yang kalau bercanda keterlaluan terselip sendiri di XI IPA6, sedangkan Eka yang dewasa, pendiam dan cerdas adalah siswa KSI, XI IPA1. Kami bersepuluh sangatlah akrab. Kalau sudah bertemu, selalu bercanda dan tak ada yang canggung atau jaim. Dan itu sudah terjalin dari SMP. Kami juga membuat perkumpulan. Namanya adalah d’JambLE.
Siang itu, di depan kelas XI IPA5
“Dhita!” panggil Dimas dari arah belakangku sambil mendekatiku.
“Ada apa Dimas?” tanyaku sambil menyilangkan tangan dan mengangkat satu alisku.
“Kamu tau ga? Kamu terpilih menjadi pembawa acara festival besok! Kok kamu gak kasih tau kita sih, kalau kamu ikut mendaftar?” tanya balik Dimas sambil memegang pundakku.
Kontan saja aku kaget. Karena aku yang terpilih ini, merasa tak pernah mendaftar. “Kamu dapat informasinya darimana, Dim?” tanyaku lagi.
“Tadi aku ketemu Pak Edi. Dan kata Pak Edi, kamu terpilih. Kalau mau tahu lebih lanjut, langsung tanya Pak Edi saja.” jawab Dimas.
Tanpa pikir panjang, akupun bergegas menuju kantor guru. Beruntung, di tengah perjalanan aku bertemu Aneu dan Vyie, sehingga aku tak sendiri memasuki ruang kantor.
“Assalamualaikum, Pak,” salamku pada Pak Edi.
“Wallaikumsalam. Ada keperluan apa?” tanya Pak Edi pada kami,
“Dhita mau tanya, Bapak. Dhita tidak pernah merasa mendaftar pada formulir pemilihan pembawa acara besok. Kok tiba-tiba Dhita yang terpilih ya?” protesku setenang mungkin, walau sebenarnya hati ini panik.
“Bapak hanya memilih saja ya, Dhit. Bapak tidak tahu menahu soal itu.” jawab Pak Edi sambil membetulkan mejanya.
“Tapi Pak, Dhita itu lemah dalam berbicara formal di depan orang banyak. Dhita takut tidak sesuai dengan pembawa acara selayaknya,” jawabku lancar.
“Dhita. Kamu di pilih karena sudah di pertimbangkan matang-matang,” papar Pak Edi. “dan juga, Bapak yakin. Kamu bisa. Kamu pasti siap melaksanakan kepercayaan yang sudah Bapak berikan pada kamu.” lanjut Pak Edi sambil tersenyum.
Sambil membalas senyum Pak Edi dengan senyumku yang kecut, aku berinisiatif tidak mau protes lagi. Ku ajak dengan isyarat pada Aneu dan Vyie untuk keluar. “Ya sudah. Kami kembali ke kelas dulu ya Pak. Assalamualaikum,” salamku bersamaan dengan Aneu dan Vyie.
“Wallaikumsalam,” salam balik Pak Edi.
Kami berjalan dengan irama kaki yang sama, tanpa suara yang terlontar diantara kami bertiga. Sampai di depan kelasku, Vyie membuka suara.
“Sebenernya ada apa sih Dhit?” tanya Vyie dengan nada datar di padukan suaranya yang tinggi.
“Ya ampun Vyie. Kamu ‘nda mudeng juga toh? Dari tadi khan sudah di jelaskan oleh Pak Edi dan Dhita!” seru Aneu kesal. “Dhit. Kayaknya ada orang yang sentimen deh, sama kamu. Dan sepertinya dia bukan orang jauh. tapi orang deket kamu. Karena hanya orang terdekat kamu yang tahu kalau kamu itu lemah dalam percakapan formal kayak pembawa acara gitu.” Aneu menjelaskan panjang lebar karena dia tahu kelemahanku.
Tiba-tiba Adi featuring Abdul datang, dan mereka bertanya dengan polosnya, “Ada apaan nih? Kok gak ngajak kita sih?”
Otakku seperti berputar sangat cepat begitu mereka menampakan wajahnya. Ku fikir, anak IPS seperti Abdul pasti sangat pintar berkomunikasi. Langsung ku tarik tangan mereka berdua dan mengajak mereka menuju perpustakaan.
“Hei… Mau ngapain Dhit, narik-narik saya segala?” tanya Abdul sambil berjalan.
“Kamu anak IPS khan Dul? Aku ada perlu sama kamu,” jawabku tanpa berhenti berjalan.
“Aku khan anak IPA, Dhit. Koq aku di bawa-bawa?” Adi bertanya dengan wajah polosnya.
“Kalian berdua khan udah kayak ‘kembar siam’. Berdua terus. Walaupun beda kelas, selalu saja sedang berdua. Kalau kalian terpisah khan, aneh rasanya.” Ujarku lancar. Aku hanya menjawab sesuai fakta saja.
Setelah sampai di perpustakaan, ku jelaskan pada mereka panjang lebar dan sejelas-jelasnya, mereka dengan senang hati membantuku. Sampai pada akhirnya waktu istirahat habis, dan kembali ke kelas masing-masing.
Malamnya di rumahku
Malam ini rumahku ramai. Belum pernah aku merasakan ramai tapi damai kayak gini. Jujur, aku seneng banget punya sahabat kayak para anggota d’JambLE. Mereka sampai bela-belain menginap di rumah untuk ngebantu temannya yang sedang kesusahan ini. Sampai akhirnya aku paham cara bagaimana berkomunikasi.
Selesainya aku paham dan mengerti, kami berkumpul di ruang tengah keluargaku. Bercanda gurau sampai jam menunjukan pukul 22.15. Dan aku berinisiatif untuk mengajak mereka tidur, karena kalau tidak kami tidak akan tidur karena keasyikan bergurau.
Sebelum tidur, Vyie sempat bercerita bahwa dia sangat mengagumi salah satu peserta Festival besok. Tetapi dia tidak mau berterus terang, siapa orang tersebut. Huh. Bikin penasaran saja.
Keesokan paginya, di sekolah
Persiapan festival hari ini sangat ramai. Sebagai crew, aku dapat keluar masuk dengan gampangnya ke dalam ruangan khusus panitia. Dan itu sangat ku idamkan mengingat aku jarang mengikuti kegiatan organisasi. Di dalam ruangan itu, aku bertemu dengan anggota OSIS dan para peserta festival. Banyak di antaranya kelas XII. Ku beranikan diri untuk menyapa mereka. Hitung-hitung buat latihan.
Di antara peserta festival yang ada, ada seorang siswa yang membuatku penasaran. Setahuku dia bernama Indra. Pembawaannya yang sangat cuek itu, membuatku ingin tahu. Kutanyakan semua yang ingin ku tanyakan padanya. Untungnya dia menjawab semua pertanyaanku. Dari pembicaraan kami, baru ku ketahui bahwa Indra sebenarnya tak ingin mengikuti festival ini. Kurang lebih sama dengan apa yang ku rasakan.
Tanpa terasa, festival akan di mulai. Aku baru menyadarinya saat Vyie menyuruhku menyiapkan pembuka acara. Aku dan Indra berpencar menyiapkan keperluan masing-masing.
“Vyie, tahu catatan acaraku gak?” tanyaku pada Vyie, setelah sadar bahwa catatan acaraku hilang.
Vyie menatapku tajam dan sinis. Lalu dia menjawab dengan datarnya, “gak. Makanya persiapin matang-matang dari awal dong.”
Aku tercengang. Tak pernah Vyie sesinis itu padaku. Bibir ini serasa akan berkata sesuatu, tetapi tertahan. Entah oleh apa. Dia sahabatku, aku tak boleh membalasnya. Dan yang Vyie katakan memang benar. Aku kurang mempersiapkan.
Sorenya, selesai festival
Seperti biasa, aku pulang dengan semua sahabatku. Mereka bergurau dan mengejek beberapa kesalahanku saat membawa acara. Aku yang di ejek ini hanya bisa diam dan sedikit malu mengingatnya. Mereka tertawa puas saat menyadari aku malu.
“Hahaha… tapi kamu bikin kita bangga kok. Kamu bisa dengan system kebut semalam!” seru Kismawan,
“Dan juga kamu bisa bikin yang ngerjain kamu itu sebal. Karena maksud dia itu mempermalukan kamu, ternyata kamu bisa. Betul gak?” Jainus menambahkan.
Gelak tawa mereka benar-benar membuatku ikut tertawa. Dari semuanya, hanya Vyie yang terdiam seperti memikirkan sesuatu. Lalu Vyie berjalan sangat lambat dan tertinggal di belakang. Dengan langkah di perlambat juga, aku berjalan di samping Vyie.
“Vyie, kamu tadi kenapa?” tanyaku pelan,
“Gak apa-apa.” jawabnya datar.
“Tapi tadi kamu gak seperti biasanya lho, Vyie. Kamu seperti orang lain.” ucapku dengan harapan Vyie menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
“Serius. Aku gak apa-apa!” sentak Vyie kecil. “Dhit. Please. Jangan ajak aku ngobrol dulu.” lanjutnya.
“Tapi Vyie…” aku terdiam sejenak untuk memikirkan alasan yang pas untuk Vyie.
“Aku yang melakukannya…” kata Vyie dengan tatapannya lurus ke depan..
Aku tak mengerti apa yang di maksud oleh Vyie. Dahiku pun terlipat dan alisku terangkat sebagai tanda tak mengerti.
“Yang mendaftarkan kamu untuk menjadi pembawa acara. Aku yang melakukannya,”
To be continue…
d'jambLE bagian 4
15 tahun yang lalu

















Lihat Daftar Isi !
.jpg)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar