Sabtu, 27 Maret 2010

d'jambLE bagian 3

Aku menampar Vyie. Ku yakin ini sangat keterlaluan dan juga Vyie pasti takkan memaafkan aku. Sangatlah jelas dengan dia langsung pergi dan tak berkata sepatah kata pun setelah aku menamparnya. Tak lama setelah itu Adi, Kismawan, Dimas dan Jainus masuk ke UKS. Mereka mendekati aku yang sedang menangis di pintu dan Aneu yang a menenangkanku.
“Dhit. Ada apa lagi?” tanya Jainus.
“Aku jahat Jai. Aku kejam,” jawabku sambil merintih. Aku benar-benar tak tahu apa yang mesti aku lakukan. Aku tak bisa menahan emosiku, dan berbuat kasar pada sahabatku sendiri.
“Udah Dhit… Aneu ngerti, tadi emosi kamu lagi gak bisa di kontrol saja khan? Kalau Aneu, mungkin sudah bertindak lebih…”ucap Aneu yang ku yakin hanya mencoba menenangkanku,
“Wadduh. Kok jadi kayak gini ya?” keluh Kismawan sambil menggaruk kepalanya,
“Ini semua salah aku…” ujar aku, karena ku yakin masalahnya semakin runyam.



Saat pulang sekolah

Pulang sekolah, d’JambLE minus Vyie berkumpul di depan kelas XI IPA3.
“Kamu kerja kelompok buat fisika hari apa Jai? Kelompok kita belum tugas kelompoknya.” ujar Dimas.
“Hehehe, ya udah deh. Atur aja,” kata Jainus,
“Jih. Anak XI IPA 5 malas-malas ya!” seru Eka,
“Hei! Saya gak malas Ka!” omel Adi.
“Hanya tak mau mengerjakan tugas, khan?” cela Liq, dengan wajah menyebalkan,
“Ya gitu deh…” kata Adi, pasrah.
Semua tertawa dan ikut mencela Adi, kecuali aku. Jujur, aku lagi malas untuk tertawa ataupun bercanda. Aku masih memikirkan Vyie.
“Dhit. Kamu kenapa?” tanya Abdul saat melihat mataku sembab.
“Masalah Vyie lagi Dul. Maaf ya Dul, Aku gak bisa cerita sekarang, lagi gak mau inget-inget dulu.” jawabku tegas.
“Ya, gak apa-apa kok Dhit. Abdul ngerti.” kata Abdul sambil tersenyum lemas, “Oia… Hayo! Yang punya hutang uang pulsa sama Abdul, cepat bayar! Kakak Abdul udah nanyain nih,” omel Abdul.
Kismawan, Aneu, dan Dimas membayar hutang mereka pada Abdul. Sedangkan yang lain tidak ada hutang uang pulsa pada Abdul,
“Nanti ya Dul. Duit saya lagi abis,” ujar Adi,
“Nanti terus, dari dulu. Kamu tuh hutangnya udah banyak, Adi. Kayak gak niat bayar.” sindir Abdul.
“Ya ampun, Dul… saya bakal bayar kok. Tapi nanti. Serius. Saya pasti bayar!” janji Adi,
“Alah… Sudah saya hitung. Janji kamu jauh lebih banyak dari hutang kamu Di!” seru Abdul yang sepertinya marah. Dia langsung berdiri dari duduknya.
“Tapi khan saya udah bilang gak ada Dul! Abdul gak percaya?!” sentak Adi.
“Terserah Adi aja lah. Percuma mengharapkan kamu bayar hutang. Kayak nungguin hujan di awal musim kemarau!” sentak balik Abdul. “Duluan!” lanjut Abdul yang artinya pamitan pulang.
Abdul marah sama Adi? Baru kali ini terjadi deh kayaknya. Mereka sangat dekat seperti kembar siam. Kok Abdul jadi sensitif ? Aku bertanya dalam hati.
“Di. Kamu juga keterlaluan! Dasar pongo!” seru Liq. Kasar sekali kata-katanya. Karena yang ku tahu, pongo mempunyai arti bodoh, oon dan semacamnya.
“Gak penting lah!” hardik Adi lalu pergi meninggalkan aku dan yang lainnya yang heran dengan sikap Adi, Abdul dan Liq
Serius. Ini masalah serius. Karena ini jarang terjadi malah tak pernah terjadi.



Aku berjalan menuju tempat parkir motor siswa sendirian. Saat ku mendekati motor Beat hitamku, aku melihat Abdul melambaikan tangannya dan di sampingnya juga terlihat Kismawan dan Eka. Aku yakin, lambaian tangannya itu berarti memanggilku. Akupun langsung mendekati mereka.
“Ada apa nih?” tanyaku pada mereka.
“Shut… jangan berisik, sini dengar dan lihat ada apa di balik jendela XI IPA2,” jawab Kismawan.
Aku menoleh ke jendela XI IPA2. Jelas ku lihat dua orang yang ku kenal dan juga suara isak tangis. Aku yakin suara tangisan itu berasal dari Vyie, sedangkan yang berada di samping Vyie, adalah Aneu. Jelas terlihat Aneu menenangkan Vyie.
“Aku bodoh. Memang bodoh!” sentak Vyie.
Aneu memegang wajah Vyie dengan kedua tangannya. “Jangan hanya menangis Vyie. Jelaskan. Mengapa semua seperti ini?” tanya Aneu.
“Aku bodoh Neu. Aku hanya bisa berkata sangat menyakitkan hati Adhita, tadi. Aku bodoh, Neu. Aku mengakui kesalahan yang sebenarnya bukan salahku. Aku benar-benar bodoh!” seru Vyie dengan air mata yang membanjiri pipinya.
Tunggu. Apa aku salah dengar? Vyie bilang tidak melakukan kesalahan itu? Lalu siapa yang sebenarnya melakukan itu?
Aku bersiap untuk menuju Vyie, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi langkahku terhenti karena dengan sigap Eka, Abdul dan Kis menarikku. Menyuruhku tetap di tempatku sekarang,
“Kamu juga akan tahu jawabannya. Kalau kamu kesana, dia tak jadi menceritakannya.” ucap Eka sangat pelan. Mau tak mau aku mengikuti ucapan Eka.
“Lalu, siapa yang melakukannya Vyie?” tanya Aneu melepaskan tangannya dari pipi Vyie, seperti tahu apa yang ingin aku tanyakan
“Aku juga gak tahu Neu…” jawab Vyie.
Benar-benar gak masuk akal. Aku pusing di buatnya. Aku pusing dengan masalah ini. Vyie mengakui kesalahan yang bukan salahnya. Lalu sebenarnya siapa yang melakukannya?
“Kenapa kamu mengakui kesalahan yang bukan salahmu, Vyie? Kamu memang bodoh.” tegas Aneu
“Iya Neu. Aku memang bodoh. Aku iri. Kenapa Adhita yang malas bisa mendapatkan posisi pembawa acara? Padahal aku sudah berusaha sebisa mungkin untuk jadi pembawa acara dalam festival itu. Tanpa di duga, Adhita yang terpilih. Aku bodoh…” keluh Vyie.
Hah? Hanya itu? Ya. Menurutku itu masalah sepele. Mengapa jadi runyam? Aku memang malas. Memang pantas banyak yang meragukanku menjadi pembawa acara festival kemarin.
Sungguh. Aku tak tahan. Aku tak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi nanti. Aku mendekati mereka lalu menyilangkan tangan,
“Hanya karena itu Vyie?” tanyaku sinis di depan Vyie. Vyie tercengang. Terlihat dari wajahnya bahwa ia kaget dengan kehadiranku.
“Ya.” jawab Vyie singkat.
“Tega kamu Vyie. Hanya karena itu kamu mengakui kesalahan fatal. Gak nyangka.” celaku.
“Maafin aku Dhit. Aku gak nyangka kalau semua jadi seperti ini. Dan sungguh, bukan aku yang melakukan itu,” ucap Vyie.
“Konyol. Benar-benar konyol!” seruku dengan tatapan yang jauh lebih sinis.
“Maaf Dhit. Maaf…” Vyie meminta maaf sambil menundukan kepalanya, tak berani menatap wajahku.
“Vyie. Aku yang minta maaf, karena aku tak mengerti keinginanmu itu. Aku tak tahu yang kamu inginkan. Padahal kamu sahabatku. Maaf Vyie, maaf…” ujarku pada Vyie sambil memeluknya. Aku menangis di pundaknya. Aku memang sahabat yang gak berguna. Aku tak tahu harapannya selama ini. Aku hanya menceritakan semua tentangku,
“Iya Dhit. Aku juga janji takkan melakukan hal konyol lagi, aku juga akan terbuka sama kamu, agar tak ada salah paham kayak gini lagi,” ucap Vyie.
“Jadi, kita baikan khan?” tanya ku
“Pasti…” jawab Vyie



Hubungan antara aku dan Vyie sudah membaik. Tapi, aku tetap ingin tahu siapa yang mendaftarkan aku dalam pemilihan pembawa acara tersebut. Satu-satunya kunci dari pertanyaan tersebut adalah, Pak Edi.
“Khan festival sudah selesai. Kenapa masih di pertanyakan?” tanya Pak Edi saat ku tanyakan kembali masalah tersebut.
“Pak. Karena masalah itu, Dhita sama sahabat sempat musuhan. Ayo lah Pak. Dhita janji gak akan membahas masalah itu lagi,” rayuku pada Pak Edi.
“Ok. Baiklah. Sebenarnya, bapak sendiri yang mencalonkan kamu,” ucap Pak Edi.
“Lho? Koq bisa?” tanyaku heran
“Karena, bapak tahu, kamu itu malas. Bapak ingin kamu belajar menggunakan tanggung jawab kamu. Apa kamu tetap malas atau tidak.” jawab Pak Edi santai.
Ouch.



Masalahku dan Vyie akan aku jadikan pelajaran untuk ke depan agar tak berburuk sangka dulu pada sahabat sendiri. Kita harus mencari tahu dulu kebenaran masalah.
“Dhit, ke kantin yuk!” ajak Abdul padaku.
“Ayo!” seruku sambil berjalan di samping Abdul menuju kantin.
“Hei. Ke kantin gak ngajak-ngajak ya!” omel Kis dan Liq saat di kantin.
“Kalian tuh yang gak ngajak-ngajak. Khan kalian duluan yang di kantin!” omel balik aku pada mereka.
“Kita sih hanya di ajak oleh Aneu, Vyie dan Eka. Ikut gabung yuk, di meja sana!” ajak Kis sambil menunjuk meja yang di tempati oleh trio d’JambLE alias Aneu, Vyie, dan Eka.
“Oke…” jawab Abdul, lalu aku mengikuti Abdul menuju trio d’JambLE berada,
“Yang lain mana?” tanya ku pada mereka.
“Yang lain? Yang lain khan anak XI IPA5 semua. Kok malah tanya ke kita? Khan kamu yang anak XI IPA5.” jawab Aneu.
“Oia ya. Tadi ada tugas. Mereka belum selesai,” kataku.
“Hahaha… malas!” sindir Eka,
“Jiah… mentang-mentang tidak malas! Huft.” ucapku sambil memasang tampang pasarahg tapi sebal.
“Iya nih. Eka jahat. Abdul juga malas Ka. Abdul juga merasa tersindir nih!” omel Abdul dengan wajah sok polos,
“Hahaha… aku gak nyindir kok!” bela Eka,
“Iya, tapi menyakitkan hati!” seru aku sambil pura-pura nangis,
“Sorry, sorry…” kata Eka,
Tidak lama kemudian Liq dan Kis datang bersama Adi, Dimas, dan Jainus. Melihat mereka datang, Abdul langsung bergegas pergi.
“Mau kemana Dul?” tanyaku.
“Kemana aja!” jawabnya keras.
Sepertinya aku tahu kenapa Abdul begityu. Pasti ada masalah antara dia dan Adi yang belum selesai. Tapi, apakah mesti seperti ini?








To be continue…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar